Gempa M 6,5 Guncang Kepulauan Seribu: Pemicu, Dampak Luas, hingga Gangguan KRL
- account_circle Dwi Mutiara
- calendar_month 52 menit yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Pusat gempa M6,5 yang mengguncang Kepulauan Seribu, Jakarta, Sabtu (12/9/2026) | Sumber: iNews.id
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cibitunghitz.com, Bekasi – Wilayah Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dan sekitarnya mengguncang wilayahnya akibat gempa bumi tektonik pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 04.23 WIB. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sempat mencatat kekuatan awal sebesar magnitudo (M) 5,9 sebelum mereka memutakhirkannya menjadi M 6,5.
Lokasi dan Karakteristik Gempa
Berdasarkan hasil analisis pemutakhiran parameter oleh BMKG, episenter gempa bumi terletak di laut pada koordinat 5,24° LS dan 106,78° BT. Atau berlokasi sekitar 69 kilometer Timur Laut Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, dengan kedalaman hiposenter mencapai 368 kilometer.
“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab,” ujar Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Dr. Wijayanto, S.T., M.Sc.
BMKG menjelaskan, bahwa aktivitas intraslab memicu gempa tersebut akibat pecahnya batuan pada slab lempeng subduksi yang menunjam ke bawah karena tegangan tarik. Karakteristik gempa jenis ini memiliki pancaran guncangan (ground motion) yang cenderung kuat serta mampu menjangkau wilayah yang sangat luas. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan pergerakan geser turun (oblique normal).
Meskipun magnitudo gempa tersebut cukup besar, hasil pemodelan tsunami memastikan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami. Hingga pukul 05.00 WIB, hasil monitoring BMKG juga belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
Luasnya Wilayah Guncangan
Karena kedalamannya yang mencapai ratusan kilometer, getaran gempa ini menjangkau dan mengguncang berbagai wilayah. Seperti Pulau Jawa hingga Sumatera secara luas, dengan rincian skala intensitas sebagai berikut:
Skala IV MMI (Dirasakan oleh orang banyak dalam rumah, gerabah pecah, pintu/jendela berderik): Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, dan Tanggamus.
Skala III MMI (Getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa seperti ada truk berlalu): Tangerang, Tanjung Priok, Kec. Nagrak, Kec. Kalapanunggal, dan Cilacap.
Skala II–III MMI: Rancaekek, Lembang, Garut, Kota Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Kab. Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, hingga Solok Selatan.
Skala II MMI (Dirasakan beberapa orang, benda ringan digantung bergoyang): Lemong, Semaka, dan Bengkunat.
Imbas terhadap Transportasi Publik
Dampak gempa juga sempat menyentuh sektor transportasi massal. Pihak KAI Commuter Line menghentikan sementara operasional perjalanan KRL Jabodetabek guna memastikan keselamatan jalur.
“Perjalanan Commuter Line diberhentikan sementara waktu guna pengecekan jalur terlebih dahulu secara menyeluruh,” tulis akun resmi KAI Commuter Line.
Petugas menyelesaikan pemeriksaan jalur berturut-turut pada pukul 05.26 WIB untuk lintas Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, dan Tanjung Priok, serta pukul 05.45 WIB untuk lintas Tangerang. Selepas pengecekan dan penyataan aman, mereka kembali mengoperasikan seluruh perjalanan KRL secara normal.
Imbauan BMKG
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang, tidak mudah terpancing oleh isu atau informasi yang tidak valid, serta menghindari bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa. Masyarakat disarankan untuk memantau pembaruan informasi resmi terkait kebencanaan hanya melalui kanal komunikasi terverifikasi milik BMKG (seperti situs web resmi atau media sosial).
- Penulis: Dwi Mutiara

Saat ini belum ada komentar