Perpusnas Pangkas Program Literasi, Bantuan Buku dan DAK Fisik Dihentikan Akibat Anggaran Dipotong
- account_circle Dwi Mutiara
- calendar_month Senin, 20 Jul 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI, E. Aminudin Aziz. | Sumber: samudrafakta.com
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Cibitunghitz.com, Bekasi – Kabar mengejutkan datang dari sektor pendidikan dan literasi nasional. Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Republik Indonesia, terpaksa menghentikan sejumlah program. Prioritasnya akibat pemerintah memangkas anggaran mereka secara sangat drastis, untuk tahun anggaran 2026.
Pemerintah tercatat memotong anggaran Perpusnas yang semula berada di angka Rp721 miliar sebesar Rp343,1 miliar (atau turun sekitar 47,6%), sehingga Perpusnas kini hanya menyisakan anggaran sebesar Rp377,9 miliar.
Fakta pemangkasan anggaran ini terungkap dalam Rapat Kerja Komisi X DPR RI bersama Kepala Perpustakaan Nasional di Gedung DPR RI, Kamis (16/7/2026). Dalam rapat tersebut, Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz mengakui bahwa penurunan anggaran yang masif ini berdampak langsung terhadap lumpuhnya sejumlah program-program penguatan literasi di berbagai daerah.
Menyetop Program Bantuan Buku dan DAK Fisik
Dampak paling nyata dari pemangkasan anggaran ini adalah Perpusnas menghentikan program pembagian buku gratis bagi masyarakat luas. Padahal, pada periode 2024–2025 Perpstakaan Nasional menjalankan inisiatif strategis. Dengan menyalurkan bantuan sebanyak 1.000 buku ke setiap desa, taman bacaan masyarakat (TBM), lembaga pemasyarakatan (lapas), hingga puskesmas di seluruh penjuru Indonesia. Program ini sebelumnya dinilai sangat sukses dan mendapatkan sambutan serta respons yang luar biasa positif dari masyarakat.
Selain pengiriman buku, Perpusnas juga terpaksa menghentikan penyaluran Dana Alokasi Khusus (DAK) fisik. Akibat ketiadaan dana ini, Perpustakaan Nasional tidak dapat memenuhi berbagai usulan daerah terkait pembangunan fisik.
Renovasi gedung perpustakaan, pengadaan fasilitas Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), hingga suplai perlengkapan meubelair. Kondisi ini memicu keluhan dari berbagai daerah yang sangat membutuhkan dukungan fasilitas tersebut, terutama wilayah-wilayah yang sebelumnya sudah masuk ke dalam daftar lokus prioritas.
Pernyataan Langsung dan Tanggapan Kepala Perpusnas Mengenai Kendala Anggaran Literasi
“Betul, dengan penurunan anggaran yang sangat drastis, pekerjaan yang terkait dengan literasi menjadi terganggu,” ujar Kepala Perpusnas E. Aminudin Aziz saat menyampaikan paparan dalam Rapat Kerja Komisi X di Gedung DPR RI, Kamis (16/7/2026).
Terkait pembagian buku yang harus disetop, Aminudin menjelaskan: “Kami kan membuat inisiatif pembagian buku ke setiap desa, taman bacaan masyarakat, lapas, puskesmas itu tahun 2024-2025 satu lokus 1.000 buku. Ini kan disambut dengan sangat luar biasa, dimanfaatkan dengan sangat baik, dan ini mendapatkan respons yang sangat-sangat positif. Tahun 2026 ini tidak bisa kami kerjakan karena tidak ada uangnya,” ujarnya.
Sementara mengenai bantuan infrastruktur, ia menambahkan: “Nah bantuan berupa DAK fisik yang tadi disampaikan, bangunan, kemudian renovasi, TIK, perlengkapan meubelair, itu tidak bisa kita berikan, walaupun daerah itu juga berteriak karena mereka terutama misalnya yang sudah masuk ke dalam lokus prioritas itu pada akhirnya kan ditiadakan,” tambahnya.
- Penulis: Dwi Mutiara

Saat ini belum ada komentar